sent by: Ko Franz Dwiono
Koko Dan Cici
Kami sering mendengar sebutan Koko (kakak laki-laki) dan Cici (kakak perempuan) dalam kegiatan di wihara. Bahasa yang digunakan tersebut adalah bahasa Mandarin yang belum baku penggunaannya dalam Bahasa Indonesia selain itu penggunaan kata koko dan cici lebih menunjukan etnis tertentu. Demi semangat kebersamaan dan keuniversalan dari Ajaran Buddha, marilah kita kita ganti kebiasaan penggunaan istilah tersebut dengan panggilan “kakak”
Contoh Yang Baik
Kami sering melihat kakak pembina sekolah Minggu yang selalu rajin membimbing. Mereka selalu datang lebih awal sebelum puja bakti dimulai dan selalu ikut berada di dalam dhammasala ketika pujabakti berlangsung. TERIMA KASIH KAKAK, KAMU TELAH MEMBERIKAN CONTOH YANG BAIK KEPADA KAMI. KELAK KAMI PUN AKAN BERPERILAKU DISIPLIN SEPERTI ITU.
SEGERA TERBIT!!
Bulettin Si Bucil
Media Komunikasi Anak-anak dan Remaja Buddhis Bogor
si_bucil@yahoo.co.id
Minggu, 24 Januari 2010
POJOK PEMBINAAN
Mengenal Lebih Dekat WIHARA KHANTI BHUMI
Sent by: Ko Franz Dwiono
Namo Buddhaya. Hallo teman-teman. Kali ini kami akan menampilkan dan memperkenalkan teman-teman dari Wihara Khanti Bhumi. Oh ya, apakah di antara kalian ada yang tahu letaknya wihara ini? Betul, Wihara Khanti Bhumi terletak di Citeureup. Disebut demikian karena konon dahulu di daerah ini banyak sekali tumbuh pohon Teureup (Bahasa Sunda) atau Turap (Bahasa Indonesia). Itu lho, pohon yang getahnya berwarna merah seperti darah.
Pada tahun 1980-an Wihara Khanti Bhumi masih berupa cetiya kecil yang “menempel” di Kelenteng Hok Tek Bio. Namun, pada awal tahun 2000 wihara tersebut sudah mempunyai lokasi tersendiri yang kebetulan terletak di samping kelenteng, tepatnya di Jalan Dahlia Nomor 21. Perum. Griya Persada, Citeureup, Kabupaten Bogor.
Setiap hari Minggu, kegiatan di wihara ini dimulai dengan kebaktian anak-anak jam 9 pagi. Dilanjutkan kebaktian remaja jam 11 dan kebaktian umum jam 5 sore. Anak-anak di daerah ini rajin sekali mengikuti acara dan kebaktian pagi, bahkan beberapa di antaranya ada yang datang dari Cibinong. Jumlah umat-umat cilik ini meningkat pesat semenjak wihara ini mempunyai tempat sendiri, selain itu tentunya karena usaha dari para pengurus wihara dan Pembina Sekolah Minggu untuk mengembangkan kegiatan dan pelayanan.
Kakak-kakak di wihara ini cukup pandai dalam menyusun dan merencanakan acara. Selain Kelas-Dhamma juga ada kegiatan yang menyenangkan seperti games dan kreatifitas. Tak heran anak-anak di wihara ini senang dan rajin.
Wihara ini masih membutuhkan keberadaan seorang pandita. Terutama pada kebaktian umum (sore hari), penceramah yang mengisi Dhamma jumlahnya sangat sedikit. Selain itu, keberadaan pandita dirasakan umat dan pengurus sebagai masalah yang mendesak karena untuk sebagai pemimpin upacara pemberkatan pernikahan.
Demikianlah teman-teman, selayang pandang mengenai Wihara Khanti Bhumi. Kami akan menampilkan profil wihara-wihara yang lain dalam edisi selanjutnya. Untuk itu, kami membutuhkan kerja samanya. Terima kasih. Sadhu.
(artikel ini akan terbit di Bulettin Si Bucil edisi perdana)
Kamis, 21 Januari 2010
Awas, Terlalu Banyak Duduk Bisa Mematikan
VIVAnews
By Elin Yunita Kristanti - Kamis, 21 Januari
[Awas, Terlalu Banyak Duduk Bisa Mematikan] Awas, Terlalu Banyak Duduk Bisa Mematikan
VIVAnews - Kebiasaan sehari-hari bisa berakibat fatal, apalagi bagi para pekerja kantoran. Peringatan baru dari para ahli kesehatan, duduk bisa mematikan.
Para ilmuwan mengatakan duduk dalam waktu lama, bahkan jika Anda rajin olah raga, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Tak pandang bulu apakah Anda duduk di kantor, sekolah, di dalam mobil, atau di depan televisi dan komputer.
Riset ini memang masih terbilang awal, namun beberapa kajian sudah menyatakan orang yang sehari-harinya menempel di kursi, terancam menjadi gemuk, terkena serangan jantung, bahkan kematian.
Dalam editorial di British Journal of Sport Medicine, Elin Ekblom-Bak, dari Sekolah Olahraga dan Ilmu Kesehatan Swedia menganjurkan pihak berwenang memilikirkan kembali definisi 'aktifitas fisik'.
Sebab, ketika lembaga kesehatan merekomendasikan aktifitas fisik minimum yang harus dilakukan sehari-hari - itu tak termasuk membatasi waktu yang digunakan dalam waktu duduk.
"Setelah empat jam duduk, tubuh muai mengirimkan sinyal-sinyal berbahaya," kata Ekblom-Bak. Dijelaskan dia, gen yang mengatur glukosa dan lemak dalam tubuh mulai berhenti bekerja.
Bagaimana dengan orang yang rajin olah raga? Ternyata, masih beresiko. Ahli dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan orang yang rajin olah raga tapi terlalu banyak duduk, hanya bisa selamat jika latihan dilakukan rutin setiap hari, bukan hanya kadang-kadang.
Namun, fakta membuktikan orang yang bekerja di kantor memang lebih banyak duduk daripada beraktifitas. Berdasarkan hasil survei di Amerika Serikat, tahun 2003 hingga 2004, warga Amerika sehari-hari lebih banyak duduk, baik di kantor atau di dalam kendaraan.
Lalu, bagaimana cara mengurangi risiko duduk? "Sudah pasti, orang harus terus berolah raga. Sebab, olah raga mendatangkan banyak manfaat," kata Ekblom-Bak.
Di kantor? "Diajurkan untuk bangkit dari kursi sesering mungkin. "Jangan hanya mengirim email atau pesan elektronik. Bangun, datangi kolegamu. Berdiri!"
(AP)
Senin, 18 Januari 2010
Tokoh-tokoh Sejarah pada Masa Buddha
Sent by: Franz Dwiono
Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah kerajaan Buddha. Namun, catatan sejarah tentang masa itu masih sangat kurang. Salah satu catatan sejarah yang sangat penting untuk mengetahui sejarah kerajaan Buddha, khususnya Sriwijaya adalah catatan sejarah I-Tsing.
I-Tsing adalah seorang pendeta Buddha dari Cina. Pada tahun 671, beliau pergi ke India untuk mempelajari ajaran Buddha. Beliau singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk mempelajarai tata bahasa Sansekerta. Ketika kembali dari India I-Tsing, tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah Buddha berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Cina. Pada tahun 689, I-Tsing pulang ke Kanton. Beliau menjemput empat orang pembantunya.
Kemudian beliau kembali lagi ke Sriwijaya. Beliau menyelesaikan dua buah karya tulis termasyhur, yaitu Catatan Ajaran Agama Buddha yang dikirim dari Laut Selatan dan Catatan pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India pada zaman Dinasti Tang. Dalam kedua karya ini, I-Tsing menguraikan letak dan keadaan Sriwijaya dan negaranegara Nusantara lainnya. Karya I-Tsing ini menjadi sumber informasi penting tentang sejarah Nusantara abad ke-7, khususnya tentang Sriwijaya. Mari kita bahas beberapa tokoh pada masa kerjaan Buddha di Indonesia. Kita akan membahas tiga tokoh, yaitu Balaputradewa, Sakyakirti, danKertanegara.
Balaputradewa
Balaputradewa adalah raja Sriwijaya yang memerintah sekitar abad ke-9 atau ke-10 Masehi. beliau berasal dari keluarga Syailendra, yang berkuasa di Pulau Jawa mulai sekitar tahun 750. Ayah Balaputradewa bernama Samaragrawira dan ibunya bernama Tara . Balaputradewa kemudian bergelar Sri Wirawairimathana. Pada zaman pemerintahan Balaputradewa, Sriwijaya menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, Semenanjung Malaya, dan Cina. Karena itu, nama Balaputradewa juga dikenal di negeri lain. Di daerah Nalanda , India , nama Balaputradewa terpahat pada prasasti di antara puing suatu wihara kuno. Di situ tercantum Suwarnadwipa, sebutan lain bagi Pulau Sumatra atau Kerajaan Sriwijaya.
Sakyakirti
Sakyakirti adalah seorang mahaguru agama Buddha yang ada di Kerajaan Sriwijaya. Menurut kesaksian I-Tsing Sriwijaya telah menjadi pusat agama Buddha. Di sana ada lebih dari seribu pendeta yang belajar agama Buddha. Diperkirakan di Sriwijaya sudah berdiri sebuah perguruan Buddha. Perguruan ini mempunyai hubungan baik dengan perguruan Buddha yang ada di Nalanda , India .
Kertanegara
Kertanegara adalah raja terakhir dari Kerajaan Singasari. Beliau adalah cicit Ken Arok. Kertanegara memerintah tahun 1268-1292. Kertanegara bergelar Maharajadhiraja Sri Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa. Kertanegara adalah raja yang sangat terkenal baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Dalam bidang politik, Jayanegara dikenal sebagai raja yang menguasai ilmu ketatanegaraan dan mempunyai gagasan memperluas wilayah kerajaannya. Kertanegara menganut agama Buddha Tantrayana Tahun 1275 Kertanegara mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Pengiriman pasukan itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu. Ketika Kertanegara memerintah, Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Jawa Barat (Sunda), Madura, Bali, dan Gurun (bagian Indonesia Timur). Pemerintahan Kertanegara berakhir ketika diserang oleh Jayakatwang dari Gelang-gelang. Setelah Kertanegara gugur, seluruh kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang.
From: www.sdpemudabangsa.com
Kamis, 14 Januari 2010
INFO
Namo Buddhaya__/\__
Teman - teman yang mau bikin post atau artikel untuk blog Vihara Khanti Bhumi tapi tidak punya blog sendiri maka silahkan kirim post atau artikel Anda ke alamat email saya:
Sweet.kooheng.waty@gmail.com
atau
Sweet_chemical_lovers@yahoo.com
Nanti post atau artikel yang Anda kirim k'email saya akan segera diterbitkan dalam blog ini.
Namo Buddhaya __/\__
For Some reader and my friends who want to make a post or article for the blog Khanti Bhumi Viharam but do not have your own blog then please send your post or articles to my email address:
Sweet.kooheng.waty@gmail.com
or
Sweet_chemical_lovers@yahoo.com
The post or articles that you send to my email will soon be published in this blog.
Sabtu, 09 Januari 2010
Metta Day At Khanti Bhumi Viharam
Namo Buddhaya Teman- teman __/\__
Vihara Khanti Bhumi akan menyelenggarakan acara Hari Metta lho...
Acaranya yang akan dilakukan adalah pelepasan hewan yaitu berupa burung dan bakti sosial (baksos) di lingkungan vihara Khanti Bhumi. Acaranya akan dilaksanakan pada hari Minggu, 10 Januari 2010 pukul 14.00 WIB. Acaranya tentu saja dilaksanakan di Vihara Khanti Bhumi, Jl. Dahlia No. 21, PERUM Griya Persada Citeureup- Bogor.
Biaya yang harus dikeluarkan teman- teman adalah sebesar Rp. 10.000,-. Uang ini akan digunakan untuk membeli hewan dan termasuk danna baksos yang akan dikoordinir oleh panitia dari vihara Khanti Bhumi Citeureup.
Ayo ikutan...! Mari kembangkan Metta kita dengan mengikuti kegiatan ini.
Mettacitena
Jumat, 08 Januari 2010
Pacaran ala Buddhis
Dalam pembahasan ini, pengertian istilah ‘pacaran' adalah hubungan seorang pria dan wanita yang bertujuan untuk saling mengenal secara pribadi sebagai persiapan membangun rumah tangga dalam ikatan perkawinan. Adapun penggunaan judul ‘Pacaran ala Buddhis' tentunya tidak untuk membandingkan dengan ‘pacaran ala bukan Buddhis', melainkan lebih menekankan cara mendapatkan pacar atau melangsungkan pacaran sesuai dengan Ajaran Sang Buddha.
Masalah pacaran ini memang hanya dialami oleh para umat Buddha yang tinggal dalam masyarakat, atau perumah tangga saja. Sedangkan, untuk para bhikkhu yang tidak menikah dan tinggal di vihara tentunya tidak mengalaminya. Namun, upaya mendapatkan pacar atau calon pasangan hidup ini tetap bisa dicari dalam Dhamma Ajaran Sang Buddha. Hal ini karena Ajaran Sang Buddha bukan hanya untuk para bhikkhu saja, melainkan juga untuk para perumah tangga.
S ebagai langkah awal, untuk mendapatkan seorang pacar tentunya diperlukan beberapa persiapan mental atau perbaikan pola pikir.
Pertama, milikilah rasa percaya diri yang timbul dari pemahaman bahwa mencari pacar sesungguhnya lebih mudah daripada mencari uang. Pemahaman ini berdasarkan pengalaman bahwa seseorang mungkin saja telah bekerja sepanjang hari, namun ia belum tentu mendapatkan selembar uang. Sebaliknya, ketika seseorang mulai membuka mata di pagi hari sampai hendak tidur di malam hari, tidak terhitung lawan jenis yang telah dilihatnya. Dari sekian banyak lawan jenis yang ditemuinya, tentu ada salah satu diantaranya yang layak dijadikan pacar.
Kalaupun sampai sekian tahun usia kehidupan seseorang masih belum mendapatkan pacar padahal ia sudah sangat banyak bertemu dengan lawan jenis, maka ia hendaknya berusaha menganalisa pola pikirnya. Mungkin, ia terlalu banyak melihat kekurangan yang ada pada lawan jenis yang dijumpainya. Mungkin pula ia terlalu banyak melihat kekurangan pada diri sendiri. Sebaliknya, ia mungkin melihat terlalu banyak kelebihan yang ada pada orang lain maupun diri sendiri. Selama pola pikir yang ia miliki masih belum sesuai kenyataan, bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing, maka tentu sangat sulit mendapatkan pacar. Untuk memperbaiki pola pikir, diperlukan langkah berikut yang ada di bawah ini.
Ketiga, mengkondisikan agar orang yang sudah dapat diterima kekurangan dan kelebihannya itu untuk tertarik dan berkenan membalas cinta yang telah diberikan kepadanya. Untuk itu, seseorang haruslah meningkatkan kualitas diri agar layak diperhatikan dan dicintai.
Bentuk tubuh
Senyuman
Ucapan
Nyanyian
Tangisan
Tangisan tulus dan terjadi pada waktu yang tepat akan sangat berpengaruh dalam membangun serta membina hubungan dengan pacar. Oleh karena itu, jangan gunakan air mata untuk melakukan kebohongan agar mendapatkan belas kasihan orang lain. Gunakanlah setiap tetes air mata yang mengalir sebagai sarana mengungkapkan rasa haru akan kasih yang tulus. Dengan demikian, orang akan menghargai tangisan itu sebagai kondisi untuk mendekatkan kedua pribadi sebagai pacar atau pasangan hidup.
Gerak gerik
Hadiah
Sentuhan
Dengan kemampuan meningkatkan delapan hal yang telah disebutkan di atas, kiranya mencari pacar bukanlah hal yang sulit lagi. Bahkan, ia yang sudah menjadi pacar, mungkin ia sangat berkeinginan untuk segera meningkatkan hubungan menjadi pasangan hidup dalam ikatan perkawinan.
Semoga demikianlah adanya.
Semoga semua mahluk berbahagia.